Pilih Pajak, apa Zakat?


Akhir-akhir ini sering kita dengar slogan “Hari gini gak bayar pajak, apa kata dunia?!” Sepertinya Pemerintah sedang gencar-gencarnya menertibkan masyarakat untuk sadar pajak, Pemerintah terus mensosialisasikan untuk tertib pajak, yang menurut pemerintah pajak digunakan untuk membangun fasilitas umum seperti jalan, sekolah, Rumah Sakit dan lain sebagainya. Tetapi kemudian baru-baru ini masyarakat dikejutkan dengan berita salah satu karyawan pajak Gol III.A yang menyimpan uang dengan jumlah cukup fantastis di rekeningnya. Kembali masyarakat dihadapkan pada sebuah ironi; harus membayar pajak untuk pembangunan negeri, sementara karyawan pajak menggunakan untuk membangun istana pribadi. Naudubillah min dzalik

Lantas apa yang menyebabkan hal ini terjadi, bukankah ada Slogan “Orang Bijak, Taat Pajak”,… “Bayar Pajak dan Awasi penggunaannya”…. Ya Slogan, Tinggalah Slogan, Jelas semua ini adalah Omong Kosong, bagaimana kita sebagai seorang Warga negara yang notabene berada dalam ruang lingkup hukum, yang bisanya Cuma manut sama peraturan, bisa mengawasi penggunaan pajak, yang ada kalo kita telat bayar pajak, kita akan kena denda, baik administratif hingga pidana.

Penyelewengan uang pajak oleh karyawan pajak itu, menunjukan bahwa rentannya penyelewengan dan korupsi di kalangan pejabat yang memiliki kewenangan yang tidak bertanggungjawab, menyalahgunakan kewenangan dan tentunya Rakus dan Cinta Dunia… sungguh ironis.

lantas apa maksud ane memposting tulisan ini… ane tidak bermaksud mengajak sobat blogger untuk memboikot pajak,… hanya saja mari kita belajar dari apa yang telah Rosul dan KeKholifahan contohkan kepada kita, tepatnya pada Masa-masa kejayaan Islam.

Dahulu pada zaman Rasulullah dan khalifah tidak ada pemungutan pajak pada warga, tetapi yang diwajibkan adalah pembayaran zakat yang disalurkan untuk kaum dhuafa. Sesuai ketentuan Islam, mereka yang berhak mendapatkan zakat hanya tujuh yaitu (1) Fakir, (2) Miskin, (3) Orang kafir yang tertarik dengan Islam, (4) Mereka yang sedang dalam perjalanan, (5) orang yang berjuang fisabilillah, (6) Mereka yang sedang dililit utang, (7) Amil atau pengurus Zakat. Pengeluaran untuk diluar kelompok ini sebaiknya tidak menggunakan zakat tetapi bisa menggunakan sumberdana lain seperti infaq, shadaqah atau wakaf.

Lalu mari kita bandingkan dengan Pajak

Pajak adalah menyangkut kewajiban warga negara terhadap negara yang menjadi institusi publik yang dibentuk dan diberi wewenang untuk mengelola kepentingan negara atau kepentingan publik. Pemungutan pajak harus mendapatkan persetujuan rakyat melalui UU yang harus disetujui parlemen atau DPR. Setiap pungutan pajak yang tidak didasarkan UU maka batal demi hukum dan rakyat tidak wajib mematuhinya. Tetapi untuk pajak yang ditetapkan UU maka pemerintah atau negara memiliki hak paksa untuk menagihnya melalui aparat negara yang berwenang. Pajak (khususnya di negara sekuler) tidak didasarkan pada kewajiban kepada Tuhan Penggunaan pajak tidak hanya terbatas kepada kepentingan golongan tertentu seperti Zakat hanya untuk 7 kelompok yang mustahik sedangkan Pajak dapat digunakan untuk semua kebutuhan dalam kartan dengan pengelolaan keuangan negara, termasuk yang tidak sesuai dengan tuntunan agama asal mendapat persetujuan DPR. (Sungguh pajak ini, banyak mengandung ke Madharatan, Naudzubillah Min Dzalik)

Jika pemerintah sangat gencar untuk mensosialisasikan pajaknya untuk pembangunan, mustinya LAZ, BAZ atau bank-bank syariah yang juga dapat menghimpun zakat juga gencar untuk mensosialisasikan penghimpunan zakat atau infaq dan shadaqah untuk membantu bahkan kalau dapat mengentaskan kemiskinan di negeri ini.

jadi, Bayarlah Pajak, namun tetap Utamakan Zakat. keyz!!!

Tag: , , ,

14 Tanggapan to “Pilih Pajak, apa Zakat?”

  1. Fitri Says:

    Cuma mau memberitahu link anda sudah saya masukkan dalam blogroll saya. Terima kasih telah mengajak saya bertukar link.

  2. Realodix Says:

    kalau disuruh memilih,saya lebih memilih untuk zakat.. Karena itu merupakan perintah Allah dan Rasulnya.
    Penggunaan Pajak harusnya 7 golongan itu mendapat hasil dri pajak juga..

    • aresaja Says:

      Benar, saya pun sependapat, hanya saja kita berada dalam ruang lingkup hukum yang memaksa,.. jadi mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus mengikuti apa yang telah di tentukan oleh pemerintah… seandainya 7 asnaf itu mendapatkan hak mereka dari pajak, tentu angka kemiskinan di Indonesia ini akan dapat di tekan… dan saya optimis angka kemiskinan ini dapat kita hapus dari bumi Indonesia ini… hanya saja, kira2 kapan ini bisa terealisir. wallahu’alam bi showab

  3. ABDUL AZIZ Says:

    Assalamu’alaikum wr. wb.

    Terima kasih kunjungannya ke tempat saya. Ini kunjungan saya yang pertama ke blog sahabat yang sudah lebih sebulan tidak saya lakukan, karena banyak kesibukan yang tidak mungkin saya tinggalkan.

    Tulisan di atas sangat menarik. Sebagai Muslim, tentu kita wajib membayar zakat, tapi sebagai warga negara kita juga harus membayar pajak. Tapi pajak ini harus memiliki mekanisme pengawasan dalam pemungutannya dan dalam penggunaannya.

    Untuk memudahkan kita bersilaturahim, saya sangat senang untuk bisa bertukar link.

    Terima kasih.
    Salam dari Cianjur.

    • aresaja Says:

      Wa’alaikumsalam, Wr. Wb.
      Terimakasih atas komentar anda, link anda telah kami pasang di Sobat Ares,… nantikan kunjungan balasan dari kami… semoga sukses. terimakasih

  4. Red Says:

    meski gue non muslim, tapi topik ini (zakat) pernah dibahas serius di mata kuliah ekobimu pas jaman gue kuliah. Kesimpulan yg gue dapat adalah zakat justru dapat berperan sebagai roda penggerak perekonomian dengan lebih efektif darip[ada pajak (tax) karena potensinya sungguh liar biasa. pajak cenderung digelapkan sementara mereka yg taat beraga akan sagat takut untuk menggelapkan zakat

    (ingat2 lagi materi kuliah ekonomi kerakyatan) ehehe

    • aresaja Says:

      ya, anda benar Sobat Red, memang zakat ini lebih bermanfaat, karena zakat itu sendiri merupakan salah satu rukun Islam, bila seorang muslim tidak mengeluarkan zakat maka dia belum bisa dikatakan sebagai seorang muslim atau belum sempurna tingkat keislamannya,… dan lagi Zakat itu bertujuan untuk mensucikan harta dan diri kita, serta meringankan beban mereka yang kekurangan (khususnya 7 asnaf tadi)… salam kenal

  5. rikki sudarwis Says:

    asslmalkum..
    ga semua pajak masuk kantong pribadi,, ini hanya ulah beberapa pgawai yg otak & moral na bobrok yg harus dihukum mati..
    tolong jelaskan jakat apa yg paling baik untuk kita lakukan???
    thq..

    • aresaja Says:

      wa’alaikumsalam,..
      pada dasarnya semua zakat adalah wajib dan baik untuk di laksanakan, namun apabila kita harus menjawab zakat apa yang paling baik, tentu jawabnya adalah zakat fitrah :

      Zakat Fitrah/Fidyah
      Dari Ibnu Umar ra berkata :
      “Rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah satu sha’ kurma atau gandum pada budak, orang merdeka, lelaki perempuan, anak kecil dan orang dewasa dari ummat Islam dan memerintahkan untuk membayarnya sebelum mereka keluar untuk sholat (‘iid ). ( Mutafaq alaih ).

      Besarnya zakat fitrah menurut ukuran sekarang adalah 2,176 kg. Sedangkan makanan yang wajib dikeluarkan yang disebut nash hadits yaitu tepung, terigu, kurma, gandum, zahib (anggur) dan aqith (semacam keju). Untuk daerah/negara yang makanan pokoknya selain 5 makanan di atas, mazhab Maliki dan Syafi’i membolehkan membayar zakat dengan makanan pokok yang lain.

      Menurut mazhab hanafi pembayaran zakat fitrah dapat dilakukan dengan membayar- kan harganya dari makanan pokok yang di makan.

      Pembayaran zakat menurut jumhur ‘ulama :
      Waktu wajib membayar zakat fitrah yaitu ditandai dengan tenggelamnya matahari di akhir bulan Ramadhan
      Membolehkan mendahulukan pembayaran zakat fitrah di awal.

      Keterangan :Bagi yang tidak berpuasa Ramadhan karena udzur tertentu yang dibolehkan oleh syaria’t dan mempunyai kewajiban membayar fidyah, maka pembayaran fidyah sesuai dengan lamanya seseorang tidak berpuasa.
      terimakasih atas komentar anda

  6. M. 'Arief B. Says:

    Kalo sebel itu dibolehkan, sungguh saya maunya sebel sama pajak.
    Bikin npwp nya mudah, tapi penghapusan npwp badan hukum sudah setaun lebih cuma didiamkan..
    Padahal akte notaris pembubaran usaha sudah 2 taun. Akhirnya sempat kena denda juga gara2 telat bikin SPT. Padahal SPT palsu, wong nggak ada usahanya.
    Hehe, hanya curhat aja..

    Mengenai zakat?
    Terutama zakat mal, sebenarnya memang potensi yang luar biasa…
    Tapi konteks negara daulat islami dan non islami dalam keterkaitannya dengan zakat, wah.. jadi pembahasan yang panjang juga nantinya, terutama mekanismenya.
    Yang jelas zakat mal dan zakat fitrah itu wajib hukumnya.

    Trima kasih atas tema postingannya..

    Salam hangat selalu..

  7. Joko Sardjito Says:

    Zakat kalo cuma zakat fitrah ya nggak bakalan bisa buat apa-apa.
    Yang lebih potensial itu zakat maal.
    2.5% dari penghasilan bruto

  8. Joko Sardjito Says:

    Maksud saya zakat fitrah tetap ada manfaatnya, tapi potensinya tidak sebesar zakat maal.
    Nah tapi nyatanya yang saya tahu kebanyakan orang baru sadar sama zakat fitrah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: